Ensiklopedia Hadits al-Kutub al-sittah jilid 7 : Sunan an-Nasa'i
Lahir di kota Nasa tahun 215 H, sejak kecil beliau telah menuntut ilmu dan berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya. Khurasan, Irak, Hijaz, Mesir, dan Syam telah disambangi demi mendapatkan riwayat hadits. Beliau sebagaimana yang disebutkan Imam Hakim-menjadi ulama paling faqih di Mesir pada masa itu sekaligus orang yang paling mengetahui hadits-hadits dan para perawinya. Beliau adalah Ahmad bin Syu'aib Abu Abdurrahman an-Nasa'i. Imam ad-Daraquthni berkata, "Abu Abdurrahman terdepan dalam ilmu hadits dibandingkan seluruh ahli hadits pada zamannya. Imam ad-Daraquthni juga pernah bercerita tentang seorang ulama bernama Abu Bakar bin al-Haddad asy-Syafi'i. Sang ulama ini sering mengambil hadits dari Imam an-Nasa'i, beliau pernah berkata, "Aku ridha Imam an-Nasa'i menjadi hujjah antara diriku dengan Allah. Bahkan Imam Tajuddin as-Subki pernah bertanya kepada Imam adz-Dzahabi, "Siapakah yang lebih kuat hafalannya, Muslim bin al-Hajjaj penulis Shahih Muslim atau an-Nasa'i?" Beliau menjawab, "An-Nasa'i." Lalu Imam Tajuddin as-Subki menanyakan hal itu kepada ayahnya, Imam Taqiyyuddin as-Subki. Ternyata beliau pun menyatakan hal yang sama.
Buku di tangan Anda ini, Sunan an-Nasa'i, adalah mahakarya beliau. Para ulama berbeda pendapat mengenai Sunan an-Nasa'i. Ada yang menyebutnya Shahih an-Nasa'i karena menganggap di dalamnya adalah hadits-hadits shahih. Ada yang menganggap Sunan an-Nasa'i lebih utama daripada kitab-kitab Kutubussittah yang lain. Ada yang menganggap Sunan an-Nasa'i lebih utama daripada Shahih Muslim. Ada yang menganggap Sunan an-Nasa'i lebih utama daripada Sunan Abu Dawud dan Jami' at-Tirmidzi. Terlepas dari perbedaan pendapat tersebut, semua sepakat bahwa Sunan an-Nasa'i adalah salah satu referensi utama dalam khazanah ilmu hadits.
Tidak tersedia versi lain